Wednesday, August 17, 2016

Abah dan Secangkir Kopi

Abah dan Secangkir Kopi

Tangan yang sudah cukup renta itu terus mengaduk kopi manis. Begitulah aktivitas yang ia lakukan di dalam warung yang kecil itu. Ya, karena rumahku memang tak besar juga. Dapat dikatakan rumah dan warungku hanya seperti ukuran dapur orang-orang mapan. Pagi-pagi buta selalu ada aroma wangi yang keluar dari seduhan air panas. Siapa lagi yang menyeduh kopi selain Abah? Aku dibangunkan oleh semerbak wangi aroma kopi. Aku pun tak mau kalah dengan ayam yang sudah berkokok merdu. Sejak aku kecil aku terbiasa terbangun pagi di saat kawan-kawan kecilku masih bermanja-manja dengan selimutnya, membantu Abah di warung kopi sudah menjadi keseharianku. Suara rebusan air dan gelas-gelas yang sedang ditata rapi di meja warung kopi adalah komposisi irama musik yang paling kusukai. Aku sebagai gadis kecil Abah ingin selalu berada di dekatnya, membantunya kapanpun ia membutuhkanku. Tak mau sedikitpun aku melihat Abah kewalahan melayani para pelanggannya. Ibuku juga membangunkanku dengan aroma pisang gorengnya. Begitu nikmat dan menggoda. Abah dan Ibu sudah harus siap melayani pembeli tepat pukul 06.00 pagi. Saat itulah akan banyak petani kopi yang mampir sejenak untuk menyeruput kopi kesukaan mereka dan mengganjal perut dengan pisang-pisang goreng di warung Abah.

Abah memintaku mengambil 5 gelas lagi di dapur. Aku pun segera bergegas mencari apa yang Abah minta. Aku juga menyiapkan kertas-kertas putih yang kukumpulkan dari buku-buku bekas dan sebuah pulpen. Bukan untuk mencatat pelajaran sekolah atau rumus-rumus yang aku sering tak mengerti. Kertas catatan dan pulpen digunakan oleh mereka, pelanggan setia warung Abah untuk menuliskan pesanan yang mereka mau. Tak perlu waktu lama, kopi dan pisang goreng pun akan datang dengan segera. Semua itu untuk mempermudah pekerjaan Abahku yang seorang tunarungu. Tak jarang orang-orang hanya memberi isyarat dengan menunjuk barang dan menyebutkan nominal dengan jari, sebab mereka tidak sabar untuk menunggu giliran menulis pesanannya bila warung tengah ramai. Abahku pun tersenyum dan mengangguk sebagai isyarat bahwa Abah memahami pesanan mereka.

Tiga kali dalam seminggu Abah harus membeli biji kopi kering yang sudah diolah dari pedagang di desa sebelah. Biji kopi itu nantinya akan Abah tumbuk menggunakan alu. Abah tidak bisa membeli dalam jumlah banyak, karena jumlah pesanan kopi di warung kami yang tidak menentu. Sebenarnya ada pabrik kopi di daerah kami yang sudah memproses biji kopi menjadi kopi bubuk siap seduh, namun Abah tidak sanggup untuk membelinya. Harganya yang cukup mahal juga akan membuat warung kopi kami sepi karena pelanggan kami pun tidak mampu untuk membelinya. Abah pernah bercanda kepadaku melalui bahasa isyaratnya, bahwa kelak aku akan memiliki pabrik kopi seperti pabrik kopi Cap Capung, yaitu nama pabrik kopi di daerah kami tersebut.

Abah, Dina dinten niki libur sekolah pengen saged rewangi Abah”. Aku berusaha memberi isyarat dan membujuk Abah agar beristirahat di hari Minggu, aku ingin membantu menggantikannya menjaga warung karena aku sedang libur.

Abah membalas dengan isyarat agar aku masuk ke kamar untuk belajar saja lalu beristirahat. Namun, aku terus merengek agar Abah membiarkanku membantunya.

Keluargaku adalah keluarga yang harmonis, hingga akhirnya Ibuku memilih menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negara lain demi alasan menopang keluarga karena pada waktu itu usaha warung kopi Abah belum ramai. Sesungguhnya sangat berat hati kurelakan Ibuku pergi dari rumah. Memang pada awal-awal aku masih dapat berkomunikasi baik dengan Ibu. Hingga datang sebuah berita yang mengejutkan hatiku dan merubah hidup kami sekeluarga.

Pada siang itu sepulang sekolah aku mengucapkan salam ketika masuk ke rumah seperti biasa. Setelah menjawab salamku nenek menyuruhku untuk berada di dekapannya.

Dengan lirih nenek berujar “Nduk, sing sabar yo nduk. Ibumu gak isa balik rene maneh.”
Kenopo, Mbah?” tanyaku secepat kilat.

Nenek menjelaskan kepadaku dengan terisak-isak bahwa Ibu tidak akan kembali ke rumah ini untuk selamanya, Ibu menikah dengan orang lain di negara tempat ia bekerja. Meskipun waktu itu aku masih kecil, tapi tak bisa kubohongi aku sangat mengerti dengan maksud perkataan nenek. Ya, nenek memilih kata dengan sangat berhati-hati agar sebisa mungkin tidak membuatku shock. Sementara itu, aku bisa mendengar tangisan pilu seorang pria dari kamar sebelah.

Hari-hari kami jalani seperti biasa dan aku sangat salut dengan ketegaran Abah. Sedangkan aku sendiri masih sering melamun dan larut dalam kesedihan serta berbagai pertanyaan tentang apa yang telah dilakukan Ibu, namun kusembunyikan kesedihanku itu dari Abah dan Nenek semampu yang aku bisa. Aku tidak mau meruntuhkan ketegaran mereka selama ini. Sebenarnya aku malu dengan Abah yang tegar dan tetap semangat menjalani hidup selepas Ibu merantau dan membangun hidup dengan pria lain.

Hari itu Abah mendapatkan pesanan besar dari tetangga di kampung kami untuk memenuhi keperluan hajatan keluarganya. Aku pun senang bukan kepalang karena itu tandanya kami akan mendapat keuntungan yang besar. Aku bersepeda bersama Abah membawa karung-karung berisi kopi. Abah terbiasa mengambil kopi dari desa lain yang 20 km jauhnya dengan bersepeda. Siang itu sangat cerah, namun ketika kami pulang membawa karung-karung berisi kopi, tiba – tiba hujan turun dengan derasnya. Abah memberi isyarat untuk menepi di sebuah pondok bambu. Kami menunggu hujan reda hingga 1 jam berlalu, namun hujan masih mengucur deras. Abah berlari cepat meninggalkanku ke tepian sungai di seberang jalan. Ia mematahkan 3 buah daun pisang yang sangat lebar. Abah segera kembali kepadaku dengan cepat. Dirangkainya daun-daun pisang yang besar itu agar bisa menutupi  karung-karung kopi yang diikat kuat di sepeda kami, sebagian lagi untuk melindungi kami dari hujan.

Menurut Abah hujan ini tak akan berhenti dalam sekejap, jadi Abah memutuskan untuk tetap mengayuh pulang segera mungkin. Abah menggoda aku untuk beradu cepat dengannya, aku pun menyanggupinya dengan semangat. Kami lantas saling mendahului mengayuh sepeda dengan cepat di tengah-tengah hujan deras di jalan desa yang tidak rata. Gelak tawa kami bersahut-sahutan dengan suara rintikan hujan. Itulah hebatnya Abah, ia mampu merubah kesusahan menjadi sebuah kesenangan. Bagiku hal ini akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan aku lupakan seumur hidup. Abah terus mengayuh sepedanya. Mungkin Abah ingin kami segera sampai di rumah. Aku pun ikut mengayuh pedal usang sepedaku supaya melaju lebih cepat.

Sesampainya di rumah aku melihat nenekku terbaring kesakitan. Baju Abahku pun sudah basah kuyup tertimpa derasnya air hujan. Kami segera meletakkan sepeda dan karung berisi biji kopi di dekat warung kopi Abah.

Simbah, sakit mbah?”. Mukaku mulai pucat karena panik melihat keadaan nenek yang sedang menahan sakit, wanita berusia senja yang begitu menyayangiku selama ini.

Nenekku ternyata tergelincir sewaktu mengangkat jemuran biji-biji kopi akibat permukaan halaman yang licin. Ayah langsung membawa nenekku malam itu juga ke rumah mantri desa. Untungnya nenek tidak sampai cidera serius. Mantri memberikan sejumlah obat dan menganjurkan nenek beristirahat. Esoknya, tepat sebelum ayam berkokok, aku terbangun oleh deru merdu suara tumbukan biji kopi dan alu. Aku membuka mata perlahan, kulihat bayangan Abah dibalik nyala redup lampu minyak. Kuhampiri Abah yang tengah sibuk mengerahkan tenaganya menumbuk biji kopi di dini hari. Rupanya Abah tahu bahwa aku mengamatinya, Abah menoleh dan tersenyum kepadaku, memberi isyarat padaku untuk tetap menjaga Nenek di ranjangnya. Pagi itu Abah menyuruhku untuk menjaga Nenek yang masih sakit, Abah melarang aku membantunya melayani pesanan di hajatan besar tetangga. Abah melakukan pekerjaan besar itu seorang diri sedari dini hari tadi. Sungguh aku terenyuh dengan pengorbanan Abah untuk keluarga kecil kami ini. Sore pun tiba, Abah pulang kerumah membawa segenap peralatannya dan tersenyum lebar sembari menunjukkan padaku dan Nenek lembaran – lembaran uang yang Abah peroleh dari hajatan tadi. Aku dan Nenek menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah lebar dengan senyuman Abah. Aku sangat bahagia sekali saat itu. Beberapa hari kemudian, nenek merasa sakitnya telah hilang dan kami pun sangat bersyukur. Kami berharap hal buruk itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Sesaat sebelum aku berangkat ke sekolah, Abah mendekatiku dan menunjuk pada sepatu lamaku. Abah ingin membelikanku sepatu baru. Mungkin Abah tahu bahwa sepatuku sudah kurang layak dipakai lagi. Sudah lebih dari 5 kali sepatuku ini ditambal dan diperbaiki. Namun, tetap saja mulut sepatuku kembali menganga.

Matur nuwun nggih, Abah sudah membelikan sepatu bagus untuk Dina.” Aku memberi isyarat bahwa aku sangat berterimakasih kepada Abah.

Aku tersenyum kegirangan padahal jauh di dalam hatiku aku menyimpan rasa tidak tega sebab uang untuk membeli sepatu baruku adalah uang yang Abah kumpulkan dari berjualan kopi selama berbulan-bulan.

 “Dirawat yo, sepatumu  nduk. Sing rajin sekolah yo Dina.” Nenek menasehatiku agar semakin rajin sekolah dengan pemberian sepatu dari Abah.
Nggih, Mbah. Dina mesti tambah rajin sinaune Mbah.” Aku pun berjanji pada nenek dan Abah untuk lebih semangat lagi dalam belajar.

Hari demi hari kulalui di taman bermain pribadiku, sebuah warung kopi milik Abahku. Seperti biasa aku selalu menemani Abah mengambil kopi-kopi di desa lain. Akan tetapi, sore itu aku dibonceng Abah karena kopi yang kami ambil tak banyak.

“Abah, biar Dina yang bawa karung kopinya ya.” Aku memberi tanda bahwa karung kopi telah kusiapkan.

Aku selalu menikmati momen berduaku dengan Abah. Melewati perkebunan-perkebunan kopi, berjumpa dengan warga desa yang lalu lalang, bertemu ibu-ibu yang bekerja di perkebunan kopi yang selalu melempar senyum tulusnya ditengah lelahnya hari. Aku jadi teringat akan Ibuku. Entah dimana dirinya sekarang. Abah tak pernah membahas itu lagi. Aku sendiri enggan membahasnya dengan Abah.

Takdir memang sulit ditebak ibarat teka-teki kehidupan. Cuaca yang indah sore itu pun tiba-tiba saja berubah. Langit berwarna hitam dan terdengar suara gemuruh dari langit yang awalnya terang. Hujan turun begitu derasnya di tengah perjalanan kami. Abah seperti melambaikan tangannya agar kami berhenti sejenak. Aku dan Abah duduk di kursi kecil yang berada di dekat warung makan. Dapat kupahami bahwa ada raut wajah kebingungan di wajah Abah. Sekarang sudah pukul 05.00 sore, sementara penjual biji kopi akan pergi ke luar kota sekitar 30 menit lagi karena dia harus menyetorkan kopi ke pabrik kopi Cap Capung. Sebenarnya tidak terlalu jauh jarak dari tempatku dan Abah bernaung ke rumah penjual biji kopi. Mungkin hanya 15 menit dengan naik sepeda. Aku segera mengambil daun pisang yang lebar dan cukup untuk kami berdua di sekitar tempat kami berteduh. Aku belajar dari cara Abah dalam mengatasi hujan deras waktu itu, namun jika kami tidak ambil biji kopi hari ini berarti Abah tidak bisa berjualan kopi besok pagi.

“Abah, ayo terus ke penjual biji kopi. Dina payungi Abah.” Aku memegang daun pisang keatas sebagai payung untuk aku dan Abah.

Abah segera mengayuh sepedanya dan aku yang dibonceng Abah sibuk menahan posisi daun pisang agar hujan tak begitu membasahi kami dan karung kopi yang aku bawa. Daun pisang ini tetap kuat tertimpa air hujan yang deras. Sekuat dan sekokoh  itulah hati Abahku, tak goyah berjuang di dalam hidup demi membahagiakan Ibunya yaitu Nenek dan aku, gadis kecilnya. Akhirnya kami bisa sampai 5 menit tepat sebelum penjual biji kopi berangkat ke luar kota.

“Hore, Abah bisa berjualan kopi lagi di warung besok!”, teriakku senang.

Abah pun mengangguk dan tersenyum padaku.

Tanpa terasa Aku telah menjadi siswi Sekolah Menengah Atas. Tak lagi begitu kurasakan pilunya hidup tanpa figur Ibunda. Abah dan Nenek telah berhasil mengajariku makna tentang bersabar dan tegar dalam menjalani hidup.

“Abah, pagi ini Dina yang buat kopi untuk Abah ya. Abah siap-siap di warung saja.” Aku memberikan bahasa isyarat untuk Abah.

Pagi itu mulai banyak  orang yang berdatangan ke warung kopi kami. Aku mengolah adonan tepung pisang goreng sesuai dengan racikan Nenek. Harum aroma kopi panas dan pisang goreng yang baru matang berhasil memikat puluhan pelanggan setia kami setiap hari.

Tahun demi tahun aku gunakan untuk menemani Abah. Kerja kerasku membantu Abah berjualan kopi di warung sambil tetap menuntut ilmu terbayarkan. Prestasi-prestasiku selalu membuat Abah bangga. Hingga akhirnya aku lulus sekolah SMA dan mendapat tawaran beasiswa di kota yang jauh dari tempatku. Perjalananku dan Abah mengambil kopi tidak seberapa dengan jarak yang harus kutempuh untuk meraih ilmu. Ratusan kilometer jarak antara rumahku dan tempat aku menimba ilmu nantinya menjadi semakin jauh karena aku harus meninggalkan Abah dan Nenek yang kusayang.

“Abah, Dina dapat beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi.” Kuberikan surat pemberitahuan beasiswa ke Abah.

Surat penerimaan beasiswa dibaca Abah dengan berlinang air mata. Abah memelukku erat. Beliau begitu bangga padaku.

Mbah, Dina bisa kuliah Mbah.”  Aku mendekati Nenekku dan memberitahu jika cucunya berhasil mendapatkan beasiswa.

Syukur, nduk. Simbah melu seneng.” Nenek juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena cucunya bisa mendapatkan kesempatan untuk menggapai keberhasilan hidup.

Dengan berat hati kupersiapkan segala keperluanku untuk melanjutkan pendidikan nanti. Tas jinjing yang sudah lusuh akan menemani perjalananku nantinya. Hatiku rasanya pilu bercampur haru. Pilu karena harus meninggalkan rumah, Abah, nenek dan warung kopi yang telah menjadi tempat bermainku, namun juga terharu karena bisa melanjutkan kuliah walaupun aku berasal dari keluarga yang sederhana di desa.

“Abah, Dina pamit kuliah nggih, bah. Abah jaga diri bah. Dina sayang Abah dan Simbah.” Kucium tangan Abah dan Nenekku yang mengantarku hingga ke depan pintu.

Rindu rasanya jauh dari orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, aku hanya mampu pulang setahun sekali saat Hari Raya. Selebihnya kusimpan rindu itu di dalam kalbu dan kutuangkan melalui doa-doa untuk Abah dan Nenek. Waktu ketika aku bisa berkumpul lagi bersama Abah dan Nenek adalah momen yang sangat kunantikan. Aku akan dekat-dekat selalu dengan Nenek dan masih membantu Abah di warung kopinya.

“Dina kangen sama Abah dan Simbah.” Kata-kata itu yang selalu kuucapkan begitu aku bisa menginjakkan kaki kembali di rumahku. Meskipun hanya setahun sekali semenjak aku kuliah.

Tak terasa aku sudah menyelesaikan pendidikan dan aku sudah menjadi seorang sarjana. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan kopi yang cukup ternama di kota besar. Wanita karir, orang-orang kerap menyebutku. Dina kecil, seorang gadis desa kini  telah tumbuh sebagai wanita dewasa. Kupandangi langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang dari tempat tinggalku sekarang. Dari atas terlihat betapa suasana kota ini masih gemerlap oleh cahaya lampu yang keluar dari gedung – gedung pencakar langit. Aku pun jadi teringat tentang Abah dan nenekku. Kedua orang yang kusayangi, Abah dan Nenek pernah bercerita ingin pergi beribadah ke tanah suci. Jerih payahku bekerja selama ini kutabung untuk mereka dan kini akhirnya aku mampu mewujudkan keinginan mereka.

Pagi itu aku segera berangkat ke perusahaan tempatku bekerja. Aku selalu berusaha untuk selalu datang lebih awal daripada yang lain. Bosku pun selalu memujiku karena aku memiliki performa kerja yang semakin baik dari waktu ke waktu. Ini tentu merupakan hasil dari apa yang telah diajarkan Abah dan Nenek padaku sejak kecil.

“Dina, saya ingin memberikan kamu penawaran yang sangat bagus.” Bosku datang ke ruang kerjaku dengan rona wajah yang sumringah.

“Kalau saya boleh tahu, penawaran apa itu Pak?’’ jawabku.

“Prestasi kerjamu patut diapresiasi dan saya berencana mengirim kamu untuk memimpin kantor cabang perusahaan kita di Shanghai. Tetapi hanya bila kamu tertarik, jadi bagaimana?”. Bosku berkata penuh harap.

Aku sangat terkejut dan merasa sulit untuk menjawab pertanyaan dari bosku. Semangat bos yang berapi-api seolah kupadamkan dengan keheninganku.

“Ma..ma..maaf Pak. Saya mohon maaf sekali. Terima kasih atas penawarannya Pak, namun saya tidak bisa menerima tawaran Bapak. Mungkin Bapak ada kandidat lain yang lebih baik dari saya.” Aku tahu jika bosku kecewa atas jawabanku itu.

“Ya sudah jika memang itu keputusanmu, tapi tolong kamu pertimbangkan lagi” Bosku lalu mengangguk dan meninggalkan ruang kerjaku.

Ada alasan yang begitu kuat menahanku mengambil tawaran yang sangat menggiurkan itu. Ya, ini tentang Abah dan Nenek. Kesempatan cuti beberapa hari kumanfaatkan untuk menengok kampung halaman. Sekitar jam 09.00 pagi aku sampai di jalan masuk menuju desaku, setelah beberapa menit, datanglah delman yang kutunggu. Tinggal lama di kota besar, penerbangan lintas kota dan benua yang sering kutempuh, tidak sedikitpun mempengaruhi keluwesanku dalam menaiki delman. Kulalui jalan desa yang dulu sering menjadi arena bermainku dan tempatku bersepeda dengan Abah untuk membeli biji kopi. Kulewati pula gubuk petani yang dulu sering menjadi persinggahanku dan Abah di kala kami terjebak hujan. Larutku dalam kenangan – kenangan indah masa kecilku dahulu, hingga tanpa kusadari aku telah sampai di depan rumahku dan warung kopi Abah yang masih beroperasi hingga sekarang. Warung kopi yang dulu hanya berupa tiang – tiang bambu dan beratap jerami, kini telah bertembok kokoh dengan cat biru dan beratap genting mengkilat. Sesosok pria keluar dari dalam warung dan berjalan menuju arahku.

“Ya ampun, Kok nggak ngabari dulu toh Nak Dina kalau mau datang. Pak Di dadi mboten penak.” Ujar Pria itu dengan nada sungkan padaku.

Aku membalasnya dengan senyuman, “Mboten nopo Pak Di, santai saja, Pak Di biar lanjut saja jaga warungnya. Saya mau langsung ke makam dulu setelah menaruh tas.”

Segera setelah memindahkan tas bawaanku dari delman ke dalam rumah, aku pun pergi menggunakan sepeda Abah yang masih terawat baik ini menuju makam yang tak jauh dari rumah. Ya, aku datang untuk mengunjungi makam Abah dan nenek. Betapa sedih hatiku, 4 tahun lalu aku mendapat kabar yang menyedihkan perihal kematian nenek. Di kala aku masih berjuang menjadi pegawai baru di kantor. Dua tahun setelahnya, tepat di saat aku mendapatkan bonus penjualan dari perusahaan, yang sangat cukup untuk mewujudkan keinginan Abah menunaikan ibadah Haji. Hatiku justru remuk redam. Seorang tetangga memberiku kabar duka atas meninggalnya Abahku tercinta. Betapa lirih hatiku, tak bisa kupercaya di saat aku telah mampu membahagiakan Abah dan nenek secara materi, ternyata takdir berkata lain. Aku menjadi sebatang kara, Tuhan sudah ingin memanggil mereka ke surga. Sejujurnya, aku belum bisa keluar dari kesedihan ini. Itulah sebabnya aku menolak tawaran bos waktu itu, karena aku tak mampu dan tak mau semakin jauh dari Abah dan Nenek, walau kini hanya tinggal jasad mereka yang berada di bumi, di desa tempatku dilahirkan. Akan tetapi, kenangan- kenangan indah bersama Abah dan Nenek tak akan bisa membuatku berada terlalu jauh dan terlalu lama meninggalkan kampung halamanku ini. Sekalipun tidak ada lagi suara tawa dan pelukan hangat Abah dan nenek. Setidaknya aku bisa mendatangi tempat peristirahatan terakhir mereka. Semoga kelak aku bisa setegar Abah dan sekuat Nenek, menanggapi perpisahan dengan hati yang ikhlas dan sabar.

Kukayuh sepedaku kembali menuju rumah, tiba-tiba dari arah belakangku sayup-sayup terdengar orang memanggil namaku. Diikuti dengan suara orang berlari. Semakin kencang dia berlari semakin keras pula namaku terdengar. Ternyata dia adalah tetangga dekat rumahku yang biasa memesan kopi di warung Abah dulu.

Nduk, piye kabarmu?”. Dia menanyakan kabarku yang memang sudah sedikit lama tak pulang ke desa.

Sae, Pak.” Aku menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Dina, pabrik kopi Cap Capung mau bangkrut. Pemiliknya sekarang cuma menjual pabriknya kurang dari seratus juta. Kalau Dina mau, mungkin Nak Dina bisa bantu?

Oh? Nggih Pak. Makasih infonya nggih.” Jawabku padanya.

Setelah melakukan analisa prospek dan memantapkan hati, aku pun memutuskan bahwa aku ingin membeli pabrik kopi yang hampir gulung tikar tersebut. Aku ingin menyelamatkan pabrik legendaris yang menjadi tumpuan hidup desa kami. Keputusanku sudah bulat, aku berhenti dari tempatku bekerja. Aku ingin membangun kembali perusahaan kopi itu. Aku ingin memajukan kesejahteraan desa ini. Bagiku secangkir kopi tidak hanya sekedar minuman nikmat yang sangat digemari, tetapi justru jauh lebih daripada itu. Di dalam secangkir kopi yang diracik Abah, terdapat triliunan kebahagiaan dan harapan positif dalam perjuangan hidup, dari cangkir-cangkir kopi itulah Abah menularkan semangat besarnya kepada petani-petani dan warga desaku yang sehari-harinya menggantungkan hidupnya dari perkebunan kopi. Begitu pula dengan secangkir kopi yang aku buat untuk Abah, mengandung segala ungkapan cinta dan rasa terima kasihku yang tak terhingga padanya, Baru kusadari, candaan Abah tentang pabrik kopi waktu itu benar-benar terjadi.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan NulisBuku.com

No comments:

Post a Comment

Udang Tahu Saus Skippy® Peanut Butter

Saya dari dulu memang menyukai hobi masak. Bahkan sewaktu masih kuliah pun, saya lumayan sering memasak makanan sendiri, alih-alih memb...