Thursday, August 18, 2016

Generasi Indonesia Lebih Baik dengan Budaya Sensor Mandiri

Generasi Indonesia Lebih Baik dengan Budaya Sensor Mandiri

Sebagian besar dari kita tentu mempunyai kesenangan menonton televisi (TV) untuk melepas jenuh atau mencari hiburan. Namun, dengan seiring perkembangan zaman menonton film dan mencari hiburan dapat dilakukan dengan cara pergi ke bioskop atau melihat film melalui komputer/laptop dan sebagainya. Akan tetapi sadarkah kita bahwa apa yang ditonton akan berdampak ke diri kita termasuk orang-orang di sekitar kita seperti adik, anak, keponakan bahkan masa depan generasi Indonesia? 

Calon Penerus Bangsa
(Dokumen Pribadi)

Memang di Indonesia sudah ada kategori-kategori film berdasarkan kelayakan siapa yang dapat menontonnya. Film-film pun sebenarnya sudah diberi keterangan sesuai jenjang umurnya. Kategori usia penonton menurut PP No. 18/2014 antara lain penonton dengan usia 13 tahun atau lebih, penonton berusia 17 tahun atau lebih, penonton dengan usia 21 tahun atau lebih dan penonton semua umur (SU). Meskipun telah ada kategori umur dan sensor, tetap saja di lapangan dapat ditemui anak-anak yang kedapatan menonton film di bioskop diluar kategori usianya. Anak-anak pun masih banyak yang menonton tayangan di televisi, laptop serta gadget lainnya secara bebas. Lalu siapa yang perlu bertanggungjawab atas hal tersebut? Jawabannya adalah diri kita masing-masing utamanya para orang tua dan orang dewasa. Anak-anak dan remaja tentu masih membutuhkan bimbingan orang tua/orang yang lebih dewasa tentang apa yang mereka tonton.

Sumber : Wikipedia

Budaya Sensor Mandiri menjadi kunci agar anak-anak dan remaja di Indonesia menonton film sesuai kategori umurnya. Kita tentu tidak mau calon penerus bangsa nantinya melakukan hal-hal yang tidak baik karena hanya meniru tayangan dan adegan yang mereka tonton di acara TV ataupun pada film. Lalu, apa itu Budaya Sensor Mandiri? Kampanye Budaya Sensor Mandiri dipromosikan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) agar setiap orang tua dan orang dewasa secara selektif dan mandiri memilihkan tayangan apa yang dapat ditonton atau tidak boleh ditonton oleh anak dan remaja. Selain itu, perlu juga bimbingan orang tua dan orang dewasa untuk menemani anak atau remaja menonton. LSF masih bertugas melakukan sensor terhadap film-film yang akan diluncurkan, namun secara mandiri kita tetap harus menyeleksi film yang layak untuk anak dan remaja sesuai kategori umur mereka. 

Apa manfaat dan pentingnya Budaya Sensor Mandiri ?

1. Anak-anak dan remaja menonton tayangan yang berkualitas. 
Maksud atau pengertian berkualitas adalah tayangan/fim yang memberikan manfaat baik kepada anak. Misal tayangan yang mengajarkan tentang budi pekerti seperti tolong-menolong, kekeluargaan, gotong-royong. Berbeda halnya ketika anak-anak disuguhkan tayangan yang berbau pornografi, pornoaksi dan kekerasan yang tidak seharusnya mereka tonton. Untuk tayangan yang bersifat hiburan seperti animasi pun orang tua dan orang dewasa perlu terlibat karena belum tentu tidak terdapat konten-konten yang tidak baik pada anak. Fungsi dari orang tua dan orang dewasa adalah memberikan pengarahan dan edukasi terkait tayangan tersebut.

2. Meningkatkan partisipasi orang tua dan orang dewasa untuk semakin selektif tentang film.
Budaya Sensor Mandiri secara tidak langsung mengingatkan tanggung jawab kita sebagai orang tua maupun orang dewasa bahwa partisipasi kita dibutuhkan agar anak dan remaja terhindar dari hal-hal yang merusak psikis mereka. Selama ini, mungkin cukup banyak orang tua dan orang dewasa yang acuh akan tayangan yang ditonton oleh adik, anak serta remaja di bawah kita. Partisipasi atau peran serta orang tua dan dewasa menjadi vital dalam hal memilih tayangan yang layak bagi anak.

3. Kebudayaan Lokal dan Kepribadian Bangsa yang Tetap Lestari.
Kita sadar bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk terdapat banyak suku dengan segala keanekaragaman budayanya. Budaya di suatu daerah memiliki keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain. Untuk itu, standar tentang nilai-nilai lokal akan berbeda di setiap daerah. Budaya Sensor Mandiri justru begitu mendorong nilai dan budaya lokal tetap eksis sama halnya dengan kepribadian bangsa. Masyarakat tentu memiliki ukuran sendiri-sendiri tentang tayangan yang layak/sesuai kebudayaan lokal. Untuk itu, sensor film menjadi tugas bersama segenap masyarakat Indonesia agar mampu memilih tayangan tanpa merusak kearifan lokal. Bahkan, LSF pun terus menekankan agar Film Nasional menjadi film yang mampu menginspirasi anak-anak dan remaja untuk berjiwa nasionalis, kreatif dan mandiri. 

4. Menumbuhkan Generasi Bangsa yang Lebih Baik.
Membangun generasi bangsa tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat/instan. Perlu adanya penanaman nilai-nilai yang baik kepada anak dan remaja sejak dini. Budaya Sensor Mandiri menjadi sarana bagi orang tua dan orang dewasa agar mampu mendidik anak dan remaja melalui pemberian pemahaman, pendidikan tentang tayangan yang mereka lihat. Hal tersebut guna mencegah dampak buruk tayangan yang tidak sesuai dimana efek dari tayangan dapat berimbas pada kepribadian anak. Apabila anak-anak sejak kecil sudah mendapat tayangan yang bernuansa negatif seperti kekerasan misalnya, tentu akan berdampak pada kepribadian anak secara jangka panjang. Atas dasar itu, menumbuhkan generasi bangsa yang lebih baik dapat dimulai dari rumah yaitu dengan menerapkan Budaya Sensor Mandiri dengan menyeleksi dan mengawasi tontonan mereka. 

Bagaimana cara menerapkan Budaya Sensor Mandiri?

- Mengatur jadwal menonton televisi anak dan remaja.
Bagi para orang tua mungkin bisa dengan cara mengatur jadwal anak boleh menonton film saat kapan saja. Usahakan anak-anak menggunakan waktu di malam hari untuk belajar dan beristirahat, karena tayangan di televisi termasuk iklan-iklan saat malam hari sebagian besar untuk orang dewasa. 

- Menemani adik atau anak-anak menonton film dan memberikan informasi terkait film.
Terkadang kita tidak memberikan waktu yang cukup untuk menemani adik atau anak kita ketika mereka menonton film. Padahal kehadiran kita tentu penting sekali. Ketika ada tayangan yang tidak sesuai bagi kategori umur mereka dan mempunyai konten negatif, tugas kita lah disana berperan. Kita bisa memberikan informasi berguna agar adik atau anak tidak langsung menyerap tayangan tersebut mentah-mentah.

-Mengawasi Penggunaan Gadget untuk Anak dan Remaja
Tak bisa dipungkiri jika akses tayangan dan film dapat dengan mudah didapatkan melalui gadget yang biasa mereka pegang. Pemakaian gadget pribadi untuk anak dan remaja perlu mendapat pengawasan dari orang tua dan dewasa. Pasalnya mereka terkadang mengakses tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan mereka. Untuk itulah, orang tua dan orang dewasa perlu mengawasi anak dan remaja agar tidak menyalahgunakan gadget yang mereka pakai/miliki.


Sudah tidak saatnya lagi kita saling menyalahkan apabila moral bangsa semakin rusak. Tugas tersebut menjadi tugas kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Mendidik generasi penerus bangsa dapat dilakukan dari hal yang sifatnya mendasar yaitu menyaring atau memilah apa yang baik untuk mereka. Ayo, budayakan sensor mandiri untuk generasi Indonesia yang lebih baik!

2 comments:

  1. Saya setuju dgn adanya Budaya Sensor Mandiri yang merupakan salah satu sikap peduli terhadap generasi muda bangsa Indonesia. Budaya ini perlu disebarluaskan dengan cara yang efektif misalnya ajakan melalui iklan supaya budaya ini bisa menyentuh lapisan masyarakat. Selain itu juga perlu sosialisasi untuk membekali masyarakat bagaimana melakukan sensor secara mandiri karena sebagian besar masyarakat belum mampu melakukan hal tersebut.

    ReplyDelete
  2. Iya kampanye tentang Budaya Sensor Mandiri sudah dilakukan, sosialisasi dan iklan terkait budaya ini ke masyarakat luas memang penting juga ya.

    ReplyDelete

Udang Tahu Saus Skippy® Peanut Butter

Saya dari dulu memang menyukai hobi masak. Bahkan sewaktu masih kuliah pun, saya lumayan sering memasak makanan sendiri, alih-alih memb...